Ku Bersimpuh

Ya Allah, Ya Rahman.. Ya Rahim..


Sinarilah hatiku dengan sinar-Mu..
Berkahilah setiap jalan yang Ku tempuh..
Setiap manfaat yang coba Ku rajut..
Setiap helai nafas yang coba Ku persembahkan untuk perjuangan ini..


Ya Rabbul Izzati..


Sungguh Aku sudah terlanjur cinta..
Cinta dengan jalan dakwah ini..
Cinta dengan kebersamaan jamaah ini..


Ya Rabb..


Izinkanlah Aku untuk bertemu dengan orang yang Engkau cintai..
Izinkanlah Aku bertemu dengan Rasulullah..
Izinkanlah Aku juga bertemu dengan permata duniaku..

Azzamku Tak Akan Hilang

“Akhi, afwan ana izin istirahat seminggu karena sebenarnya badan ana sudah drop belakangan ini, namun ana paksakan untuk tetap beraktivitas. Jadi makin drop badan ana.”
 
“Akh, antum sudah tahu kalau si ‘Fulan’ masuk rumah sakit karena DBD pasca dauroh kemarin?”

Mungkin kata-kata itu sering terdengar di telinga kita atau bahkan kita pernah mengalaminya. Begitulah perkataan jundi kepada sang qiyadah. Dikala semangat dakwah yang begitu kental, bukan lagi waktu yang mereka berikan, bukan lagi ide/ pikiran yang mereka sumbangkan, namun juga fisik pun mereka pertaruhkan. Jika menghadapi kondisi seperti ini apa yang bisa kita lakukan? Sedangkan amanah dakwah akan terus mengalir. Sementara dibutuhkan juga aktor-aktor yang memainkan peranan dakwah tersebut.

Wallahi, sedikit pun tidak meragukan semangat para kader dakwah yang terus menjalankan amanah mereka. Tapi, tidakkah kita juga sedih ketika salah seorang dari kader dakwah itu sedang tersungkur? Bukankah kerja-kerja dakwah kita akan lebih nikmat jika dapat dilakukan secara jama’i? Seorang aktivis dakwah pasti juga akan mengambil bagian dari setiap agenda-agenda dakwah. Mereka juga tak mau ketinggalan bukan? 

Seorang qiyadah berkata, “Akhi wa ukhti, ini ana belikan habbatussauda khusus untuk antum biar dijaga kesehatan fisiknya, gratis.. tis.. tis.” 

Dalam berbagai kondisi, tidak hanya aspek ruhiyah saja yang dipenuhi, namun juga kesehatan seorang aktivis dakwah perlu diperhatikan karena Allah pun lebih menyukai mu'min yang kuat dibanding mu'min yang lemah. Ini juga merupakan salah satu pemenuhan sepuluh muwashofat kader, qowiyyul jismi (kekuatan jasmani). Shalat, zakat, naik haji, dan ibadah-ibadah yang lain pun juga diperlukan jasmani yang sehat dan kuat. Ketika seorang aktivis dakwah telah sehat jasmaninya maka ketika seruan dakwah datang pun ia dapat lakukan secara optimal. Dengan begitu ketika seorang aktivis dakwah sudah ber-azzam, maka azzam-nya pun tak akan pernah hilang karena baik ruhiyah dan jasadiyahnya telah ia kelola dengan baik.

Wallahu’alam bishowab







Rumah Indah Ini Bernama Formasi Tarbawi

Pagi ini cuaca sangat mendukung untuk dapat dimanfaatkan dengan hal-hal yang positif. Mentari pagi ini pun menyambut dengan senyuman terbaiknya hingga mendukung langkah ini menuju sebuah persinggahan. Dimana disana akan dapat ditemui sosok-sosok yang dengan semangat terbaiknya sudah menjadi bagian dari keluarga ini, keluarga yang selalu tetap ada dengan kehangatan ukhuwahnya.

Ramainya para pendatang yang juga ingin sekedar melihat mentari pagi ini pun membersamai kedatangan wajah-wajah ceria sang pemanggul amanah. Ada yang berbeda dari wajah mereka. Ya, ternyata mereka pun ingin menjadi saksi ketika Allah telah memberikan ukhuwah yang luar biasa terhadap keluarga ini, subhanallah.

Lantunan ayat-ayat cinta-Nya sungguh membasahi kembali jiwa-jiwa yang kering dalam hati sebagai mukaddimah rasa syukur kepada Sang Pencipta. Rasa ini terasa membersamai suasana syahdu seperti dalam dekapan ukhuwah-Nya. Ternyata hari ini pun Allah ingin memberikan sesuatu yang spesial, Allah memperkenankan kami bertemu hari ini, di sini, dikeluarga ini bahwasanya Allah mencintai orang-orang yang berada di jalan-Nya. Dan ini mungkin adalah skenario yang Allah sudah rancang untuk kami, indah bukan? Walaupun sebenarnya ketika melihat secarik kertas yang bertuliskan ‘kaifa haluk?’, begitu beragam ternyata yang dirasakan, namun kembali lagi, ukhuwah yang terajut ini kian membingkai diri untuk tetap bertahan.

Kembali lagi hati ini diingatkan ketika tanggung jawab besar itu datang kepada kami, ketika ketsiqohan jama’ah menyertai hati kami, ketika bibir ini gugup untuk membaca arkanul bai’at, ketika tangan ini dengan ringan menuliskan rancangan dakwah, bergetar rasanya diri ini. Entah apa yang sedang dirasakan, tiba-tiba muncul seolah Allah ingin mengingatkan ‘seberapa besar engkau sudah berkontribusi dalam dakwah ini, duhai Sang pemanggul amanah?’ Kembali lagi pada hati ini untuk dapat meng-azzam-kan diri. Ya, berharap setelah ini ada perbaikan, ada kemajuan dalam tunaikan amanah. Bukan karena sekedar untuk penuhi amanah, namun juga mencapai tujuan bersama untuk menggapai ridho Allah.

Pun sama halnya ketika dipenghujung pertemuan ini, ada ibrah yang dapat kami ambil. Selama ini kami melangkah bersama keluarga ini tentu berasal dari tempat yang sama, dari sebuah rumah. Namun, rumah ini tentu berbeda dengan rumah yang lain. Pondasi beserta isinya pun berbeda dari rumah yang lain. Ada ciri khas yang membuat rumah ini indah dipandang, sehingga orang lain pun penasaran untuk masuk ke dalamnya. Padahal sudah cukup lama rumah ini berdiri kokoh, awet sekali. Berpondasikan iman yang kuat, beratapkan keteguhan hati, serta beralaskan keistiqomahan, yang menjadi bagian utama rumah ini. Ditambah lagi dengan berhalaman ilmu yang luas dan selalu diisi dengan senandung ayat-ayat cinta-Nya.

Inilah rumah kami, dari sini kami melangkah hingga keletihan yang kami rasakan hilang ketika memasuki rumah kami, sungguh sejuk. Dari rumah ini pula selalu lahir orang-orang terbaik pilihan Allah yang senantiasa membawa estafet dakwah. Mereka mampu dan mau mengemban amanah seberat apapun, subhanallah. Bergetar kembali rasanya hati ini.

Ya, inilah rumah kami. Sederhana bentuknya, namun Insya Allah akan membawa kebermanfaatan bagi semuanya. Rumah ini kami namakan Formasi Tarbawi.

Untukmu kader dakwah Formasi Tarbawi, tetaplah berada pada barisan yang kokoh. Bekerjalah semampu engkau, selama Allah masih memberikan kesempatan untuk menambah amal-amal mu. Semoga Allah meridhoi apa yang kita lakukan, Insya Allah.

Afwan jiddan,

Jazakumullah khairan katsir.

Aziz S. Bekti

Sambut Getaran Semangat Ini !!!

Assalamu’alaykum wr. wb

Segala puji bagi Allah yang telah melimpahkan curahan taufik, hidayah, inayah, dan juga nikmat-nikmat yang masih bisa kita rasakan sampai saat ini. Dengan bergantinya siang dan malam, bumi yang tetap bergerak pada porosnya merupakan tanda-tanda kekuasaan Sang Maha Pencipta.

Shalawat serta salam juga senantiasa terucap kepada kekasih Allah, Nabi Muhammad saw, beserta para keluarga, sahabat, dan ummatnya yang tetap istiqomah menapaki jalan dakwah. Teriring doa juga kepada para syuhada yang telah gugur di medan juang, yang telah mengorbankan harta, jiwa, dan raganya untuk mendapatkan tempat yang mulia di sisi Allah.

Ikhwatifillah, sebuah perubahan adalah keniscayaan. Sebuah perubahan merupakan momentum kebaikan yang Allah berikan, maka ambillah momentum tersebut untuk menjadi generasi terbaik. Masa Pengenalan Akademik (MPA) merupakan sebuah washilah untuk belajar, dari yang tidak tahu menjadi tahu, dari yang tahu menjadi lebih tahu, dan dari yang baik akan menjadi lebih baik. Dari sinilah juga akan melahirkan generasi peradaban. Generasi yang senantiasa menginginkan adanya proses dan hasil yang baik, yang tentunya dapat membawa perubahan secara menyeluruh. Maka sambutlah salam kami, keluargamu akhi wa ukhti, keluarga besar Formasi Tarbawi.

Ahlan Wa Sahlan, selamat datang intelektual muda di Kampus Tarbiyah, selamat menjadi keluarga besar Formasi Tarbawi FIP UNJ !!!

Semoga selalu ada cinta yang mengalir atas setiap langkah yang Allah ridhoi. Semoga saling memberikan manfaat untuk setiap aktivitas yang kita lakukan bersama.

Para pemuda merupakan aset utama/ pilar dalam kebangkitan ummat. Allah telah menjadikan manusia sebagai makhluk terbaik yang Dia ciptakan. Oleh karena itu, peran pemuda saat ini sangat dibutuhkan untuk berkontibusi dalam setiap momentum perubahan. Jika kita teringat pada salah satu sosok pemuda, Sultan Muhammad Al Fatih, di usianya yang terbilang remaja, 24 tahun, dapat menaklukan Konstantinopel. Subhanallah, apa yang dimiliki pemuda itu?

Di kampus tarbiyah ini para pemuda akan dibina dan sampai tahap pembentukan hingga akhirnya dapat diterjunkan ke setiap lini kebutuhan yang dapat menunjang menjadi generasi rabbani. Dari sinilah akan lahir pemuda-pemuda yang penuh harapan dan cita. Pemuda dengan kecerdasan berpikirnya, baik akhlak dan tutur katanya.

Jadikanlah momentum MPA ini sebagai proses adaptasi menuju ke arah yang lebih baik. Pergunakanlah waktu antum untuk hal-hal yang bermanfaat. Binalah diri antum jika ingin membina masyarakat. Binalah diri antum jika ingin menjadi pemimpin yang sejati. Dan binalah diri antum agar antum siap membina ummat. Mulai rangkailah impian-impian antum di kampus tarbiyah ini. Allahu Akbar !!!

Cerdas, Peduli, Melayani, Profesional

Selamat menyambut MPA di bulan Ramadhan ^_^

Salam hangat dari keluarga barumu,

Ketua Formasi Tarbawi FIP UNJ 2011

Aziz S. Bekti